Tawuran nasi meriahkan sedekah bumi Pelemsari
SUMBER - Sedekah bumi desa Pelemsari, kecamatan Sumber, hari rabu (15/7/2026), dimeriahkan tawur nasi. Pasalnya, dalam pesta tradisi tahunan yang digelar di Sendang Nyah itu para pemuda desa setempat saling bertengkar dengan nasi sebagai senjatanya.
Kepala desa Pelemsari, Maspin mengatakan tradisi tawur nasi menjadi tradisi turun temurun sejak dulu. Sebagai bentuk syukur kepada tuhan yang maha esa. Harapannya hasil panen padi di tahun mendatang bisa lebih banyak, terhindar dari penyakit, masyarakatnya bisa tenang dan tenteram.
"Sudah dari dulu. Turun temurun dari nenek moyang. Tinggal kita mengenalkan adat istiadat kepada generasi penerus, agar tidak tergerus dengan perkembangan zaman modern. Mengenalkan generasi muda tentang jerih payah generasi pendahulu dalam membangun desa," Imbuhnya.
Ia menambahkan tradisi tawur nasi sudah mendarah daging di kalangan masyarakat desa yang berada di perbatasan Kecamatan Sumber dengan Kecamatan Bulu itu. Pasalnya, menurut kepercayaan masyarakat yang diyakini kebenarannya oleh para sesepuh desa setempat, apabila tidak ada kegiatan prosesi tawur nasi maka akan terjadi pageblug dan gagal panen.
Sehingga dalam kegiatan sedekah bumi di masa pandemi Covid-19 pada tahun 2020 dan 2021, masyarakat setempat tetap menggelar pesta tawur nasi. Walaupun untuk kegiatan pementasan kesenian seperti ketoprak dan orkes dangdut ditiadakan.
Maspin mengungkapkan alat untuk tawuran telah disediakan oleh masyarakat yang dibawa dari rumah. Sehingga ketika nasi sudah terkumpul di Punden, baru digunakan untuk pesta tawur nasi.
Nasi sisa tawuran menurut Maspin akan dikumpulkan oleh warga untuk dikeringkan menjadi karak. Karak yang ada digunakan untuk dijadikan makanan ternak atau campuran pupuk tanaman. Hal itu dipercaya dapat menjaga tanamannya tahan terhadap penyakit.
Harapannya ke depan Pemerintah Desa Pelemsari, berkomitmen mengenalkan tradisi tersebut kepada generasi muda agar tidak tergerus perkembangan zaman. Sehingga terus dilestarikan dan dikenalkan kepada anak cucu karena mampu mempererat persaudaraan.
Salah satu peserta tawuran, Andi mengaku tradisi tahunan ini bukan ajang mencari permusuhan, melainkan bagian dari budaya yang mempererat kebersamaan.
”Nggak ada rasa dendam. Semua senang” ujarnya.
Andi meminta tradisi sedekah bumi dengan tawur nasi terus dilestarikan sebagai warisan budaya yang membanggakan sekaligus membawa keberkahan bagi masyarakat, terutama melalui hasil panen yang semakin melimpah.(Masudi/CBFM)