Gamelan pengisi liburan di Sekararum
SUMBER - Suasana libur panjang, di Dusun Sekararum, Desa Sekarsari, Kecamatan Sumber, terasa berbeda. Pasalnya, setiap malam selama libur akhir tahun ajaran, suara tabuhan gamelan seperti alunan saron, bonang, hingga kendang menggema di sana dimainkan dengan penuh semangat oleh puluhan anak yang mengikuti latihan gamelan yang diinisiasi SKRM Squad.
Pegiat SKRM Squad, Zaenuri, mengatakan diadakannya latihan gamelan lahir dari kepedulian para pemuda desa terhadap kondisi anak-anak selama masa liburan. Setiap tahun, banyak anak yang bersekolah di luar kota pulang ke kampung halaman di Sekararum. Sementara anak-anak yang tinggal di desa juga menikmati libur panjang. Namun, sebagian besar belum memiliki aktivitas yang terarah sehingga lebih banyak menghabiskan waktu bermain gawai (handphone) atau sekadar berkumpul tanpa kegiatan yang produktif.
"Melihat kondisi itu, SKRM Squad menggagas latihan gamelan yang digelar setiap malam sebagai ruang belajar, bermain, sekaligus bersosialisasi bagi anak-anak. Kegiatan tersebut bukan sekadar mengajarkan cara memainkan alat musik tradisional, tetapi juga menjadi upaya menghadirkan ruang positif bagi anak-anak selama masa liburan," imbuhnya.
Ia menambahkan kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga identitas budaya Sekararum yang sejak dulu dikenal memiliki tradisi seni yang kuat. Pasalnya, kesenian telah menjadi "DNA" masyarakat di perbatasan Kabupaten Rembang dengan Kabupaten Pati itu. Dahulu, kelompok gamelan dan ketoprak (2017, grup kethoprak dari Sekarsari ikut memeriahkan karnaval HUT RI) hidup di tengah masyarakat. Pertunjukan seni hampir selalu hadir dalam hajatan warga maupun berbagai kegiatan desa sehingga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Zaenuri mengungkapkan latihan dilakukan dengan suasana santai dan menyenangkan. Anak-anak diperkenalkan satu per satu instrumen gamelan, mulai dari saron, demung, bonang hingga kendang. Setelah itu mereka belajar memainkan gendhing-gendhing sederhana yang mudah dipahami sehingga proses belajar terasa menyenangkan.
Antusiasme masyarakat menurut Zaenuri sangat tinggi. Pasalnya, tanpa diminta, para orang tua mengantar anak-anak mereka ke lokasi latihan dan menunggu hingga kegiatan selesai. Bahkan hampir setiap malam ada warga yang secara sukarela membawa makanan ringan maupun minuman untuk dinikmati bersama para peserta. Hal itu sebagai bentuk dukungan semangat gotong royong masyarakat Sekararum masih terjaga dengan baik.
Zaenuri yang merupakan Bayan (perangkat desa) Sekarsari tersebut menyebutkan SKRM Squad telah banyak menggerakkan aktivitas sosial dan budaya yang melibatkan masyarakat. Di antaranya Festival Nginguk Githok, sebuah festival yang mengangkat potensi dan kearifan lokal desa, Pasar Ramadan (pada 2022, dikunjungi Wakil Gubernur Jawa Tengah - Taj Yasin Maemoen) yang menjadi ruang bagi pelaku UMKM sekaligus tempat berkumpul masyarakat selama bulan suci, hingga berbagai kegiatan sosial, kepemudaan, dan pelestarian budaya lainnya.
Salah satu peserta latihan, Handaruni, mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut karena selain belajar memainkan gamelan, ia juga bisa bermain bersama teman-temannya.
"Senang bisa bermain sama teman-teman setiap malam. Lagunya juga mudah dimainkan, jadi lama-lama hafal dan semakin semangat latihan," ujarnya.
Handarumi berharap latihan gamelan tidak berhenti setelah libur sekolah berakhir. Ia ingin kegiatan tersebut menjadi awal regenerasi seniman tradisional di Sekararum sehingga gamelan tidak hanya menjadi cerita dari generasi terdahulu, tetapi tetap hidup di tangan anak-anak masa kini.(Masudi/CBFM)