Terasi Open Allyssa produk Rembang moncer di luar negeri
REMBANG - Terasi Open Allyssa produk dari Desa Sidowayah, Kecamatan Rembang, moncer sampai ke luar negeri. Pasalnya, produk industri rumahan ini berhasil dipasarkan sampai ke Asia dan timur tengah.
Produsen Terasi Open Allyssa, Dian Nurshintorini mengatakan dengan adanya konflik di Timur Tengah sangat berpengaruh pada pemasaran produknya.
“Ngefek. Agak menurun,” imbuhnya.
Ia menambahkan produknya diorder di seluruh nusantara mulai dari Aceh sampai Papua.
Dian mengungkapkan banyaknya permintaan pesanan pada saat momen idul fitri dan tahun baru. Pasalnya, kenaikannya hampir 2 hingga 3 kali lipat.
Produksi terasi miliknya menurut Dian dengan dibantu 2 tenaga kerja rata-rata per harinya bisa membuat 50 sampai 100 botol per hari. Dimana per botolnya menghasilkan 85 gram dengan harga Rp 20 ribu.
Ketika ditanya awal mula memproduksi Terasi Open Dian menjawab berawal dari masa kuliah di tahun 2000. Waktu itu ketika membawa terasi berbungkus daun pisang selalu ditolak kru bis karena bau terasinya menyengat. Begitu juga ketika berpindah ke travel juga ditolak. Maka pada 2015 mulai uji coba terasi open. 2017 mengurus perizinan. Pada waktu pandemi Covid-19, ia sudah mulai menjual secara online.
Sub Koordinator Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rembang, Darmuji membenarkan usaha yang digeluti Dian telah terkenal sampai ke mancanegara.
“Saat ini sudah ada pesanan dari luar negeri. Sehingga harus dalam partai besar, dari Mbak Dian sendiri dari kapasitasnya belum memadai dan belum mencukupi. Sehingga harus lobi-lobi ke pengepul atau pedagang terasi di daerah Rembang,” ujarnya.
Darmuji menerangkan pihaknya selaku perwakilan pemerintah telah menfasilitasi pengurusan Hak Kekayaan Intelektual terhadap produk Terasi Open Allyssa.(Masudi/CBFM)