Sensus Ekonomi akan kembali digelar
REMBANG - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Rembang akan melaksanakan Sensus Ekonomi 2026 mulai Mei hingga Agustus mendatang. Kegiatan ini bertujuan untuk memotret kondisi riil perekonomian daerah secara menyeluruh, sehingga membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pelaku usaha dan masyarakat.
Kepala BPS Rembang, Jubaedi, mengatakan Sensus Ekonomi 2026 merupakan kegiatan pendataan lengkap seluruh unit usaha di luar sektor pertanian yang diselenggarakan oleh BPS. Pendataan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi perekonomian nasional.
“Mereka akan bertugas melakukan pendataan lapangan. Ada keterangan demografi, siapa yang tinggal di bangunan itu ada berapa keluarga. Ada karakteristik demografi, status perkawinan, pendidikan dan aktifitas pekerjaannya. Apakah sudah bekerja atau tidak?” imbuhnya.
Ia menambahkan Sensus Ekonomi kali ini adalah Sensus Ekonomi terlengkap sepanjang sejarah, karena tidak hanya mencatat usaha tapi juga mencatat kondisi sosial ekonomi keluarga. Pasalnya, petugas pencacah mencatat usaha yang kasat mata maupun tidak seperti usaha-usaha online, bahkan youtuber maupun influencer atau affiliate.
Jubaedi menjelaskan dalam pelaksanaan sensus nantinya BPS akan mendata seluruh aktivitas usaha tanpa terkecuali. Pendataan dilakukan secara menyeluruh dengan mendatangi setiap bangunan, baik rumah tangga maupun tempat usaha, guna memastikan tidak ada potensi ekonomi yang terlewat.
“Selain bangunan tempat tinggal nanti juga akan mendata bangunan usaha,” ujarnya.
Pelaksanaan sensus menurut Jubaedi akan dibagi dalam dua tahap. Pada 1 sampai 31 Mei 2026, BPS akan melakukan pendataan awal untuk perusahaan berskala besar dan menengah melalui metode daring, yakni pengisian data berbasis email. Selanjutnya, pada Juni hingga Agustus 2026, dilakukan pendataan lapangan secara door to door untuk menjangkau seluruh pelaku usaha di Kabupaten Rembang.
Harapannya melalui sensus ekonomi ke-5 ini, akan menghasilkan berbagai data strategis, mulai dari peta perekonomian, daya saing usaha, kontribusi UMKM, hingga perkembangan ekonomi digital dan ekonomi hijau. Data tersebut juga mencakup klasifikasi usaha berdasarkan skala, baik mikro, kecil, menengah, maupun besar.(Masudi/CBFM)