Semangat smart farming dengan sarasehan petani
REMBANG - Dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-284 Kabupaten Rembang, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang, Senin (21/7), menggelar Sarasehan Petani. Kegiatan yang diselenggarakan di Pendapa Museum Kartini itu menghadirkan Institut Pertanian Bogor, Perbankan, Petani Milenial Andalan Kementerian Pertanian RI dan Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dintanpan Rembang, Fajar Riza Dwi Sasongko mengatakan digelarnya kegiatan dengan tema Smart Farming untuk Swasembada Pangan Menuju Rembang Sejahtera untuk membuka ruang dialog antara pemerintah, akademisi, peneliti, praktisi dan petani agar meningkatkan pemahaman petani dan pemangku kebijakan daerah tentang konsep farming mendorong kolaborasi lintas sektoral dan membangun ekosistem pertanian modern yang adaptif dan produktif.
"Merumuskan langkah-langkah strategis menuju swasembada pangan yang berkelanjutan dan inklusif," imbuhnya.
Ia menambahkan digelarnya kegiatan ini merupakan kontribusi nyata terhadap arah kebijakan pembangunan nasional di bawah Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto dalam dokumen misi astacita berupa pentingnya kemandirian bangsa melalui swasembada pangan dan energi serta penguatan kesejahteraan rakyat desa dan petani.
Selain itu misi Bupati Rembang yang menekankan visi berupa peningkatan kesejahteraan rakyat secara inklusif dan berkelanjutan melalui penguatan sektor pertanian berbasis teknologi menjadi inspirasi terselenggaranya sarasehan itu.
Kepala Dintanpan Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto menerangkan potensi pertanian secara umum di kota garam relatif besar. Pasalnya, lebih dari 50% lahannya berupa sawah dan tegalan. Dimana jumlah tenaga kerja di sektor pertanian mencapai 105.324 orang setara 31,13% dari total angkatan kerja.
"PDRB sektor pertanian, kehutanan dan perikanan pada 2024 menyumbang sebesar 23,39% terhadap keseluruhan PDRB Kabupaten Rembang," ujarnya.
Agus Iwan menyebutkan luas lahan di ujung timur Pantura Jawa Tengah itu seluas 103.670 hektar dibagi menjadi 3 yaitu 26% sawah, 57% lahan bukan sawah dan 17% lahan bukan pertanian.
Dari jumlah itu menurut Agus Iwan sawah irigasi seluas 4.916 hektar, sawah tadah hujan seluas 21.707 hektar, tegalan 28.893 hektar dan luas Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) sebanyak 32.736,47 hektar.
Bupati Rembang, Harno mengaku pihaknya sangat mengapresiasi dilaksanakannya sarasehan tersebut. Karena sangat relevan dengan arah pembangunan pertanian masa kini.
"Kita menyadari bahwa tantangan sektor pertanian ke depan semakin kompleks, perubahan iklim, keterbatasan lahan, regenerasi petani yang lambat, hingga fluktuasi harga hasil panen," bebernya.
Bupati mengungkapkan pihaknya tidak bisa lagi hanya mengandalkan cara-cara konvensional. Smart farming atau pertanian cerdas berbasis teknologi menjadi solusi yang harus mulai diterapkan. Dengan penggunaan sensor, drone, aplikasi digital, dan sistem pengelolaan data harus dilakukan agar bisa meningkatkan efisiensi produksi, menekan kerugian, serta memberikan nilai tambah bagi petani.
Namun menurut Bupati keberhasilan smart farming tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM). Oleh karena itu, peningkatan kapasitas SDM pertanian, terutama penyuluh dan petani milenial, menjadi sangat penting.
Harni berharap melalui kegiatan ini, para peserta mendapatkan wawasan, jejaring, dan motivasi baru untuk menjadi pelaku pertanian yang adaptif dan inovatif.(Masudi/CBFM)