Kurangi Bahan Pangan Berbahaya, Rembang Jadi Sasaran Program Gumregah BBPOM

Kurangi Bahan Pangan Berbahaya, Rembang Jadi Sasaran Program Gumregah BBPOM

Kabupaten Rembang pada 2024 menjadi fokus program Nggugah UMKM Resik Saking Bahan Berbahaya (Gumregah+) dari Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Semarang. Program ini menyasar beberapa desa: Desa Bonang di Kecamatan Lasem, Desa Leran di Kecamatan Sluke, Desa Pandangankulon di Kecamatan Kragan, serta Desa Tritunggal dan Desa Pasarbanggi di Kecamatan Rembang.

Kepala BBPOM Semarang, Lintang Purba Jaya, menjelaskan program ini dilaksanakan karena masih banyak ditemukan penggunaan Rhodamin, pewarna tekstil, dalam pembuatan terasi. "Di Rembang itu yang tidak menggunakan jenis pewarna tekstil hanya 43%. Sisanya, sebanyak 57%, masih menggunakan pewarna kain di produk terasinya," katanya dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Kader PKK Kabupaten Rembang untuk percepatan eradikasi bahan berbahaya pada pangan, di Aula Laborat Kesehatan Daerah, Rabu (10/7).

Untuk menyukseskan program ini, BBPOM Semarang bekerja sama dengan akademisi, tim penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), serta organisasi profesi seperti Ikatan Dokter Indonesia, Ikatan Bidan Indonesia, dan Ikatan Perawat Indonesia, serta pelaku usaha.

Dalam program Gumregah+, BBPOM juga melakukan Bimtek kepada tim penggerak PKK di desa-desa lokus. Setelah Bimtek, tim penggerak PKK desa bersama sanitarian dari Puskesmas setempat akan melakukan intervensi terhadap UMKM, dengan dibekali alat test kit bantuan dari Sumber Kopi Prima.

Ketua tim penggerak PKK Kabupaten Rembang, Hasiroh Hafidz, menekankan pentingnya peran PKK dalam program ini. "Di Kabupaten Rembang ini banyak UMKM yang memproduksi terasi. Karena kami mempunyai 5 kecamatan yang di pinggir pantai. Yang 4 memproduksi terasi, yang Kaliori ini kerupuk. Takutnya juga memakai Rhodamin juga," ujarnya.

Hasiroh optimis tim PKK mampu mengatasi masalah ini, mengingat militansi mereka dalam mendukung program pemerintah, seperti penggunaan garam yodium, penanganan dan pemberantasan Covid-19, serta penurunan angka stunting.

Bupati Rembang, Abdul Hafidz, mendukung penuh program Gumregah+. "Kalau memang itu mengandung zat yang berbahaya maka diperingatkan 1, 2 sampai 3 kali. Nanti bisa diberhentikan. Diekspose produk ini berbahaya," tegasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, Ali Syofii, menambahkan bahwa produsen terasi sering berdalih penggunaan Rhodamin sudah menjadi tradisi turun temurun. "Sejak dulu pembuatannya ya begitu. Tidak apa-apa. Tidak terjadi apa-apa," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Rembang, Sofyan Cholid, menyebutkan pemakaian pewarna sintetik merupakan strategi pasar. "Terasi itu yang menarik warna merah meronanya yang berasal dari rebon. Kalau tidak ada rebon ya pakai pewarna sintetik untuk menarik pembeli," jelasnya.

Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Kabupaten Rembang, M. Mahfudz, menyatakan bahwa di Rembang terdapat 603 produk hasil pengolahan ikan, 396 produk pembuat kerupuk, 40 produk terasi dan petis, serta 40 produk ikan asin.

Jika program ini berhasil, foto kader PKK yang berperan aktif akan dipajang di website BBPOM Nasional sebagai kader Gumregah+ Kabupaten Rembang.

Buffering ...