Pasukan gabungan disiagakan simulasi hadapi unjuk rasa

Pasukan gabungan disiagakan simulasi hadapi unjuk rasa

REMBANG - Kepolisian Resort (Polres) Rembang, Kamis (23/4/2026), menggelar latihan Sistem Pengamanan Kota (Sispamkota). Dalam kegiatan itu melakukan simulasi pengamanan Kantor Bupati Rembang.

Kepala Kepolisian Resort Rembang, AKBP M. Faisal Pratama selaku Komandan Apel, mengatakan pihaknya melibatkan 642 personel gabungan itu untuk melatih komunikasi antar instansi yang sudah baik agar lebih baik lagi.

“Gunanya untuk berlatih menanggulangi eskalasi peningkatan gangguan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas),” imbuhnya.

Ia menambahkan pihaknya melibatkan tim negosiator, tim Pengendalian Massa (Dalmas) awal, Dalmas lanjut, tim pengurai massa, tim penegakan hukum, tim escape, tim kesehatan, Komando Distrik Militer 0720/ Rembang, tim Dinas Kesehatan, tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah, tim Satuan Polisi Pamong Praja, dan tim Dinas Perhubungan.

Ketua Pelaksana Sispamkota, Kompol. Bambang Sugito mengaku dilaksanakannya latihan lapangan Sispamkota Polres Rembang dalam rangka kesiapan satuan mengantisipasi gangguan kamtibmas yang berimplikasi kontigensi di wilayah Kabupaten Rembang sebagai kesiapan Polri dan instansi terkait serta TNI dalam menghadapi aksi unjuk rasa.

“Dalam rangka mengantisipasi gangguan Kamtibmas yang berimplikasi kontijensi untuk memberikan gambaran kepada pimpinan tentang pelaksanaan tugas dan hasil yang telah dicapai,” imbuhnya.

Kepala Bagian Operasional Polres Rembang ini mengungkapkan dalam simulasi tersebut menampilkan rangkaian lengkap penanganan aksi unjuk rasa, mulai dari situasi kondusif hingga eskalasi kerusuhan. Hal ini sebagai bentuk kesiapsiagaan aparat dalam menghadapi potensi dinamika di lapangan.

Seusai apel, ratusan personel gabungan telah bersiaga di depan pagar Kantor Bupati Rembang. Skenario diawali dengan gambaran aktivitas masyarakat yang berjalan normal, mencerminkan kondisi kota yang aman dan terkendali.

Selanjutnya, massa aksi mulai berdatangan dan berkumpul di titik lokasi. Mereka membawa spanduk dan poster serta menyampaikan aspirasi secara bergantian. Pada tahap ini, aparat kepolisian melakukan pengamanan secara persuasif dengan menempatkan personel di titik strategis serta melaksanakan pengawalan terbuka.

Situasi kemudian meningkat ketika jumlah massa bertambah. Personel Dalmas tampak membentuk formasi berlapis guna mengantisipasi pergerakan massa. Negosiator juga diterjunkan untuk berkomunikasi dengan koordinator aksi agar situasi tetap kondusif.

Memasuki tahap eskalasi, suasana mulai memanas. Dalam skenario, sebagian massa bertindak anarkis dengan melakukan dorongan, pelemparan benda, mencoba menerobos barikade petugas dan membakar ban dilempar ke petugas. Menyikapi hal tersebut, aparat meningkatkan status pengamanan dengan menurunkan Dalmas lanjutan lengkap dengan perlengkapan pengendalian massa.

Petugas kemudian melakukan tindakan tegas dan terukur, mulai dari mendorong massa mundur secara bertahap hingga penggunaan kendaraan taktis untuk membubarkan kerumunan. Simulasi juga memperagakan proses penindakan terhadap pelaku anarkis, serta evakuasi korban luka oleh tim medis yang telah disiagakan.

Seluruh rangkaian simulasi berlangsung dinamis dan menggambarkan tahapan pengamanan sesuai prosedur, mulai dari pendekatan humanis hingga tindakan represif sebagai langkah terakhir.(Masudi/CBFM)

Buffering ...