Optimalisasi sampah, ini solusi yang disampaikan paslon

REMBANG - Pasangan Calon (Paslon) Bupati dan Wakil Bupati peserta Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Rembang 2024, baik nomor urut 1, Vivit Dinarini Atnasari - Zaimul Umam NS (Vivit - Umam) maupun nomor urut 2, Harno - Mochamad Hanies Cholil Barro' (Harno - Hanies), menyampaikan solusi menghadapi permasalahan yang dihadapi warga Kabupaten Rembang. Hal itu disampaikan dalam kegiatan Debat Publik yang dipandu oleh Dosen UIN Abdurrahman Wahid Pekalongan, Iqbal Kamalludin dan Presenter TVRI Jawa Tengah, Yovita Dini Anindhityas Febi, di Hotel Pollos, Selasa (12/11), malam.
Calon Wakil Bupati nomor 2, Hanies mengatakan dalam jangka waktu 5 tahun ke depan dalam upayanya terhadap pengelolaan sampah akan menambah Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
"Karena yang dilandoh ini, sudah hampir tidak mencukupi," imbuhnya.
Ia menjelaskan dirinya akan meningkatkan pengolahan dan pemilahan sampah. Karena dirasa penting masyarakat sadar akan sampah.
Selain itu pihaknya akan mengoptimalkan bank - bank sampah di desa di Kabupaten Rembang.
Calon Bupati nomor 2, Harno menambahkan sampah perlu pemikiran yang berlebih terutama TPA di Landoh perlu dibuatkan mesin pengolah sampah modern.
"Perlu dibuatkan mesin modern pengolahannya" ujarnya.
Di samping itu menurut Harno perlu penambahan armada pengangkut sampah. Karena banyaknya sampah yang menumpuk.
Calon wakil bupati nomor 1, Umam mengungkapkan untuk mengatasi permasalahan sampah 5 tahun ke depan pihaknya ingin mengaktifkan bank-bank sampah di desa.
"Kita ingin memerintahkan kepada temen-temen pemerintah desa untuk bikin bank-bank sampah," tuturnya.
Dirinya juga akan melakukan pengadaan armada pengangkut sampah ke desa-desa dengan pengadaan antara 5 hingga 7 armada per kecamatan.
Calon bupati nomor 1, Vivit menerangkan di 2025, pemerintah pusat telah menganggarkan pembuatan pengolahan sampah anorganik berbasis Refuse Derived Fuel (RDF) di TPA Landoh.
"Ini sudah teranggarkan dari pemerintah pusat, tinggal bagaimana mengoptimalkan RDF yang kapasitasnya berton-ton ini dapat terisi secara maksimal" bebernya.
Dengan adanya RDF itu menurut Vivit sehingga sangat perlu pengoptimalan sampah dari desa-desa di Rembang. Sehingga tidak terfokus pada pengelolaan sampah di kota saja.(Masudi/CBFM)