Mengenal Mbah Galio yang makamnya di pinggir Pantura

Mengenal Mbah Galio yang makamnya di pinggir Pantura

LASEM - Masyarakat yang biasa jalan-jalan lewat Jalur Pantai Utara Rembang Semarang - Surabaya, ketika melewati Desa Gedongmulyo, Kecamatan Lasem, pasti akan melewati sebuah makam tunggal di pinggir utara jalan. Tepatnya 10 kilometer berada di timur dari pusat Kota Rembang.

Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Sejarah (Fokmas) Lasem, Ernantoro, kepada wartawan, Rabu (22/1) mengatakan makam tunggal di dekat Sungai Kiringan (perbatasan Kecamatan Rembang dengan Kecamatan Lasem) itu merupakan Makam Mbah Galio yang merupakan intelijen sejak 1725 Masehi dan sangat berperan penting pada Perang Kuning di Lasem pada 1742 Masehi.

"Raden Galio adalah mata-mata dari Raden Panji Margono. Kalau sekarang intel," imbuhnya.

Ia menambahkan wilayah operasi ketika menjadi telik sandi berada di Juwana (Pati), Kudus dan Jepara.

Ernantoro menerangkan nama samaran Raden Galio ketika bertugas dengan Mbah Sedandang karena ketika melaksanakan tugasnya dengan menjual Dandang (alat menanak nasi dengan kukusan).

"Dia melihat kanan kiri ini musuh atau tidak dengan menjual Dandang ke kampung-kampung," ujarnya.

Dimakamkannya pusara Mbah Galio di pinggir Pantura menurut Ernantoro karena beliau punya cita-cita tidak mau dimakamkan di makam kerabat keluarga kerajaan. Tetapi berkeinginan menjadi orang yang harus menjaga di pinggir jalan.

"Dandangnya ya di situ, pakaiannya ya di situ. Dan dimakamkan di situ," bebernya.

Raden Mas Panji Margono (wafat: 1750 M) adalah seorang keturunan trah Panji Lasem dan merupakan salah satu dari Pahlawan Lasem dalam pertempuran melawan Perusahaan Hindia Timur Belanda atau Vereenigde Oostindische Compagnie / VOC) yang biasa dikenal dengan Perang Kuning. Ia adalah putra dari seorang Adipati Lasem bernama Tejakusuma V (Raden Panji Sasongko). Makam Raden Panji Margono berada di Desa Dorokandang.(Masudi/CBFM)

Buffering ...