Masyarakat lebih memilih fogging, resistant nyamuk

REMBANG - Masyarakat lebih banyak memilih Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan fogging dari pada dengan 3M (mengubur barang bekas, memenguras dan menutup bak air. Hal itu disampaikan oleh Kepala bidang pencegahan dan pengendalian penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Rembang, Maria Rehulina, dalam kegiatan rakor Pokjanal Demam Berdarah Dengue (DBD) Kabupaten Rembang, di Hotel Pollos, Selasa (10/12).
Maria Rehulina mengatakan permintaan masyarakat untuk mengadakan fogging akan meningkat bila ada kasus DBD. Sehingga ada wilayah yang menjadi resistant DB (situasi di mana nyamuk tidak lagi terbunuh oleh dosis standar insektisida). Akibat nyamuk sudah kebal. Sehingga ketika ada PSN lain, menjadi tidak manjur.
"Kecamatan Rembang itu sudah menjadi resistant. Akibat penggunaan fogging yang tidak terkontrol," imbuhnya.
Ia mengharapkan agar desa atau kecamatan membeli alat fogging sendiri. Pasalnya, ada ekosistem yang terganggu akibat adanya bahan kimia dari fogging.
Pihaknya menghimbau agar melakukan PSN secara efektif dengan cara 3M plus. Plusnya dengan menabur abate di bak air dan memakai pelindung kelambu.
Pasalnya, nyamuk aedes ada di mana-mana, tidak mungkin hanya dikendalikan oleh tenaga kesehatan saja, sehingga pihaknya perlu melibatkan masyarakat.
Terlebih kawasan bebas jentik di antaranya sekolah, perkantoran, pondok pesantren dan kawasan industri.
Hal senada juga disampaikan Kepala seksi pengendalian penyakit Dinkes Rembang, Jhon Budi akibat penanganan DBD oleh masyarakat dengan fogging, membuat resistant nyamuk. Sehingga percuma. Nyamuknya tidak akan mati.
"Labuhan, Pamotan, Leteh, Waru. Ini hasil dari Kemenkes langsung" bebernya.
Berdasarkan data menurut John Budi kasus DBD di Kabupaten Rembang tidak stagnan. Pasalnya, pada 2022 sebanyak 204 kasus, pada 2023 mengalami penurunan dengan jumlah 186 kasus. Di 2024 ini, sampai bulan November terjadi 325 kasus.
Sedangkan kasus kematian akibat DBD mengalami kenaikan. Karena pada 2022 hanya 3 kasus, meningkat di 2023 menjadi 6 kasus dan pada 2024 ini, per November ada 9 kasus.(Masudi/CBFM)