Wapres takjub kota toleransi Lasem

LASEM – Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia (RI), Kiai Haji (KH) Ma’ruf Amin sangat takjub dengan kota toleransi yang dimiliki oleh Lasem. Hal itu disampaikannya saat menghadiri peresmian kampus multikultural dan hari lahir ke-101 Nahdlatul Ulama, di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Hidayat, Kecamatan Lasem, Sabtu (27/1).

Wapres mengatakan di Lasem dijumpai akulturasi budaya. Karena terjadi pembauran santri dan masyarakat Tiongkok sejak abad ke XVI.

“Saya merasa waktu masuk ke pondok ini, kayak saya berkunjung ke Tiongkok. Banyak bangunan-bangunan yang tipenya seperti di Tiongkok lama. Tiongkok baru dipenuhi gedung pencakar langit,” imbuhnya.

Ia mengungkapkan peran Lasem dalam akulturasi budaya itu menjadikan bangsa Indonesia dikenal sebagai negeri yang toleran di dunia.

Bahkan menurut Ma’ruf Amin beberapa waktu yang lalu pihaknya didatangi utusan dari Timur Tengah yaitu Majelis Hukama Al Muslimin, tempat perhimpunan orang-orang pintar, ulama-ulama seluruh dunia, pusatnya di Abu Dhabi, di Emirat. Tapi ketuanya Syeikhul Azhar (Pemimpin Al Azhar), Thayyeb. 

“Dia datang ke sini, menemui saya. Di Jakarta. Beliau mengatakan kami datang ke sini, bukan untuk mengajari orang Indonesia. Tetapi kami datang ke sini, ingin belajar tentang toleransi,” ujarnya.

Orang nomor 2 di Indonesia tersebut mengungkapkan Syeikhul Azhar menilai toleransi di Indonesia adalah model yang paling baik di dunia. Sehingga akan dijadikan model dalam rangka pengembangan dakwah daripada Majelis Hukama Al Muslimin. 

Harapannya bukan saatnya lagi sekarang bahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, tapi buku berbahasa Indonesia yang harus diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Pasalnya, banyak nilai-nilai yang terkandung di Indonesia bisa dibuat pelajaran buat kehidupan global.

Ketua Yayasan STAI Al Hidayat, KH. Zaim Ahmad Ma’shoem mengakui toleransi antar umat beragama di Lasem telah dimulai pada saat perang kuning tahun 1740.

“Pemimpin wilayah adalah Oei Ing Kiat. Dari namanya beretnis Tionghoa. Pemimpin perangnya Kiai Ali Baidlowi, Beliau seorang santri. Ada tokoh masyarakat namanya Raden Panji Margono, seorang Jawa. Perang melawan kompeni Belanda,” bebernya.

Pria yang biasa disapa Gus Za’im menuturkan dengan adanya perang kuning itu menjadi cikal bakal interaksi sosial. Walaupun sebelumnya juga sudah terjadi pembauran antar etnis.

Kiai Zaim juga menceritakan Ponpes Kauman Lasem dibangun pada 2003 lalu, kegiatan yang dilakukan semula hanya mengaji kitab, bandongan, sorogan, dan musyawarah sebagai model dasar.

Namun, berkah dari bimbingan dan arahan Kiai Ma’ruf Amin dan keluarga, sejak 2006 Ponpes Kauman ini mulai dijadikan sebuah perguruan formal, mulai dari PAUD, TK, SD, Program Tahfiz, SMP Unggulan, Madrasah Aliyah, hingga Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayat.

“Ini adalah berkah dari bimbingan Prof KH Ma’ruf Amin beserta putra putri beliau,” pungkasnya.(Masudi/CBFM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *