Dalam rangka upaya penurunan stunting di Kabupaten Rembang, Pemkab Rembang menggelar orientasi dan komitmen bersama dalam pendampingan, konseling, dan pemeriksaan kesehatan tiga bulan Pra Nikah. Kegiatan yang diikuti jajaran Kantor Urusan Agama (KUA), Puskesmas dan Camat se Kabupaten Rembang tersebut berlangsung di gedung hijau komplek rumah dinas Wakil Bupati Rembang, Selasa (9/8).

Sekretaris Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (Dinsos PPKB) Rembang, Budi Setiasih, menyampaikan, dalam konseling sebelum nikah tidak hanya dibutuhkan kesiapan mental tapi juga kesehatan reproduksi dan ekonominya. Jika hal tersebut dipahami, maka potensi timbulnya stunting dapat dicegah.

Lebih lanjut dia menerangkan, konseling nantinya dilakukan di KUA dan menjadi syarat untuk pendaftaran perkawinan. Calon pengantin (catin) nantinya akan mendapat konseling tiga bulan sebelum melakukan pernikahan.

“Sekarang tidak bisa serta merta begitu mau menikah langsung cepat. Sekarang sudah ada MoU bersama, komitmen bersama bahwa ada konseling tiga bulan sebelum nikah. Di sana dilakukan konseling pembelajaran di KUA masalah fiqihnya kemudian kesiapan mental spiritualnya, selanjutnya kesiapan dari kesehatan reproduksinya baik catin laki-laki atau perempuan,” terangnya.

Melalui konseling tersebut, diharapkan catin dalam kondisi sehat dari segi reproduksinya maupun dari segi kesehatan tubuhnya sebelum menikah. Seperti tidak ada lagi penderita anemia pada catin perempuan yang berpotensi bayi lahir dalam kondisi tidak normal dan menghentikan kebiasaan merokok pada catin laki-laki.

“Tidak merokok ini bagian dari konseling, karena laki-laki perokok akan menurunkan kualitas sperma. Ini juga menjadi salah satu penyebab bayi lahir stunting,” imbuhnya.

Selain itu kegiatan konseling juga dilakukan untuk pencegahan terhadap pernikahan usia anak. Dimana kekerasan di dalam rumah tangga sering terjadi pada pernikahan di usia anak selain menimbulkan bayi lahir stunting.

Dikatakannya di setiap desa memiliki tim percepatan penurunan stunting (TPPS). Selain itu juga ada tim pendamping keluarga (TPK) yang memiliki sasaran Catin, Ibu hamil, Ibu pasca melahirkan, Ibu yang mempunyai anak usia di bawah dua tahun (Baduta) serta keluarga yang terindikasi stunting.

“Karena ada TPK, ini sudah di paling grassroot. Misalnya ada tetangga yang mau menikahkan atau yang mau menggelar hajat nikah diharapkan mereka tahu lebih dulu. Sehingga bisa disosialisasikan, bisa melalui posyandu atau yang lain,” pungkasnya.(Dari Rembang Rendy Teguh Wibowo melaporkan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

You May Also Like

Gus Wabup : Rembang Jadi Etalase NU

Wakil Bupati Rembang H M Hanies Cholil Barro’ (Gus Hanies) meminta kader…

Wabup Minta Sekretariat DPRD Optimalkan Publikasi Kerja Anggota Dewan

Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Rembang mempunyai tugas besar untuk mengatasi…

Drupoh, Tradisi Unik Saat Panen Duku Woro

Desa Woro Kecamatan Kragan terkenal dengan buah dukunya atau masyarakat biasa menyebutnya…

Gus Hanies: Bangunan Gedung Harus Ramah Difabel

Pemerintah Kabupaten Rembang berupaya membuat akses ramah difabel saat membangun gedung. Hal…