Minim Modal, Bertekad Nyaleg Demi Perjuangkan Suara Disabilitas

REMBANG – Saswati Ningrum Warga RT 04 RW 03, Dukuh Ngiri, Desa Sendangmulyo, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang, mempunyai mimpi yang besar untuk para penyandang disabilitas. Ia berkeinginan penyandang disabilitas seperti dirinya bisa lebih banyak didengar pemerintah dalam setiap program pembangunan.

Dengan alasan tersebut, wanita kelahiran tahun 1981 ini tertarik untuk ikut dalam kontestasi pemilihan calon legislatif dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Dia maju lewat daerah pemilihan (Dapil) 6 yang meliputi Kecamatan Bulu, Gunem, Sulang.

Wanita yang akrab disapa Saras ini merupakan penyandang polio. Ia selama ini aktif di komunitas difabel.

“Sebelumnya memang saya sudah aktif di komunitas, di organisasi juga, untuk membantu memfasilitasi teman-teman difabel. Kebetulan saat ini ada momen Pileg, saya tertarik menempuh (advokasi) lewat jalur politik,” kata dia.

Saras mengatakan, dia maju sebagai caleg untuk menghapus stigma terhadap difabel. Menurut dia, penyandang disabilitas sering dianggap tidak mampu berperan dalam pembangunan di daerah.

“(Nyaleg) Ini juga untuk menjawab stigma negatif disabilitas melalui partisipasi yang bermakna di ranah legislatif. Seringnya masyarakat memandang penyandang difabel ini sebagai produk gagal dan hanya menjadi beban keluarga. Maka dengan ini saya ingin membuktikan,” ujar Saras.

Jika terpilih menjadi legislator di DPRD Rembang, Saras akan mengupayakan agar penyandang difabel dapat berperan aktif dalam pembangunan. Dia juga ingin memperjuangkan agar setiap pembangunan fisik maupun non fisik dari pemerintah bisa ramah terhadap difabel.

Saras mengaku tak punya cukup modal untuk berkampanye seperti caleg lainnya. Dia hanya mengandalkan modal seadanya dari usaha yang ia tekuni, yakni usaha UMKM membuat kerajinan tangan.

“Memang secara materi saya kurang, tetapi saya yakin dengan dukungan teman-teman saya dan para tetangga. Bahkan pemasangan APK (alat peraga kampanye) saja saya dibantu tetangga. Beli paku juga dibantu. Bahan kampanye hanya mengandalkan spanduk dan stiker,” kata Saras.

Saras menjadi pelaku UMKM kerajinan tangan sejak empat tahun lalu. Usahanya mengandalkan bahan limbah berupa janggel jagung atau bonggol jagung yang didaur ulang menjadi boks tisu, asbak, pigura, dan aksesoris. (Dari Bulu Rendy Melaporkan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *