Tradisi sedekah bumi adalah ritual tradisional masyarakat yang populer di Indonesia khususnya Pulau Jawa. Rembang adalah salah satu kabupaten yang masih meneruskan tradisi ini. Khususnya di Desa Megulung Kecamatan Sumber.

Sedekah bumi (Kabumi) merupakan wujud rasa syukur masyarakat terhadap Tuhan Yang Maha Esa setelah menerima hasil bumi yang melimpah. Tradisi ini sudah berlangsung secara turun menurun dari nenek moyang.

Selain itu, melalui tradisi ini warga berharap agar diberi banyak limpahan rezeki dan dijauhkan dari bahaya oleh Yang Maha Kuasa. Sedekah bumi juga dilakukan untuk mempererat persaudaraan antar warga.

Kepala Desa Megulung, Suparno mengatakan kegiatan sedekah bumi di tahun 2022 ini, yang dilaksanakan pada Hari Minggu (15/5), dirasa belum meriah dibanding sebelum adanya pandemi Covid-19, namun lebih meriah dibanding kegiatan tahunan pada tahun 2020 dan tahun 2021 lalu karena adanya pandemi Covid-19.

Suparno menerangkan kegiatan yang digelar untuk menyemarakkan pesta sedekah bumi tahun 2022 dimulai dengan kegiatan sepeda santai yang diikuti ratusan anak dengan rute dari selepan Desa Megulung ke barat, Desa Sekarsari Kecamatan Sumber ke utara, Desa Wiroto Kecamatan Kaliori ke timur, Desa Sidomulyo Kecamatan Kaliori ke selatan dan finish di Selepan Desa Megulung.

“Kegiatan yang diinisiasi oleh kepemudaan didukung karang taruna dan seluruh warga masyarakat Desa Megulung, Alhamdulillah apa yang diharapkan oleh panitia sampai finish, berjalan dengan lancar,” Imbuhnya.

Suparno menyebutkan dalam kegiatan pesta adat itu, masyarakat juga menghadirkan paguyuban kethoprak dari luar daerah yang dipentaskan di Punden dilanjutkan pesta yang dipimpin oleh Kepala Desa dan diiringi doa oleh Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat Desa Megulung.

Selain itu, kegiatan pesta yang digelar seusai panen padi itu menurut Suparno juga dimeriahkan dengan panjat pinang dari bambu.

Sementara untuk kegiatan pengajian akan dibarengkan dengan kegiatan Haul wali Desa setempat yang direncanakan pada tanggal 3 Juli mendatang.

Suparno menuturkan ketika masa pandemi kemarin, karena taat terhadap pemerintah, masyarakat hanya merayakan sedekah bumi dengan pesta di Punden dengan tarian tayub yang dibatasi 2 lagu.

Sedangkan pada tahun-tahun sebelum pandemi para pemuda memeriahkannya dengan pesta dangdutan.

Suparno mengungkapkan hasil bumi yang bisa dipanen dari sawah di desa bersangkutan didominasi padi dan tembakau. Selain itu juga ada jagung, kacang dan lombok.(Dari Sumber Masudi melaporkan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

You May Also Like

Gus Wabup : Rembang Jadi Etalase NU

Wakil Bupati Rembang H M Hanies Cholil Barro’ (Gus Hanies) meminta kader…

Wabup Minta Sekretariat DPRD Optimalkan Publikasi Kerja Anggota Dewan

Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Rembang mempunyai tugas besar untuk mengatasi…

Drupoh, Tradisi Unik Saat Panen Duku Woro

Desa Woro Kecamatan Kragan terkenal dengan buah dukunya atau masyarakat biasa menyebutnya…

Gus Hanies: Bangunan Gedung Harus Ramah Difabel

Pemerintah Kabupaten Rembang berupaya membuat akses ramah difabel saat membangun gedung. Hal…