Umumnya pergantian tahun baru dirayakan setiap tanggal 1 Januari. Tetapi bagi warga Tionghoa memiliki tahun baru yang berbeda, yakni tahun baru imlek yang jatuh setiap tanggal 1 Februari.

Di Kecamatan Lasem tahun baru Imlek disambut penuh suka cita bagi semua kalangan. Termasuk santri di Pondok Pesantren Kauman yang berada di Desa Karangturi, Kecamatan Lasem.

Pondok pesantren yang berlokasi di kampung pecinan itu ikut memerihkan datangnya tahun baru China 2573 dengan cara menggelar dialog budaya yang diikuti semua kalangan yang menunjukkan keberagaman namun tetap mengedepankan toleransi.

Diskusi yang bertajuk “Imlek Dalam Bingkai Kebersamaan Upaya Merajut Tenun Kebangsaan” itu dihadiri oleh KH Zaim Ahmad pengasuh Ponpes Kauman Lasem, H Hariyono (ong kiem shui) yang merupakan Ketua MUI Jawa Timur, Hj Fatimah Asri Mutmainah (Anggota Komnas Desabilitas), Ketua PCNU Lasem KH Sholahudin Fattawi, dan Ketua STAI Al Hidayah Lukman Hakim.

Hariyono Ong Ketua MUI Jawa Timur menyampaikan, perayaan imlek sendiri merupakan budaya warga Tionghoa, bukan merupakan ritual keagamaan. Seperti yang dilakukan oleh pesantren Kauman Lasem yang di asuh oleh KH Zaim Ahmad Ma’som menyelenggarakan acara menyambut malam Imlek bersama para santri dengan dialog budaya.

Etnis Tionghoa sendiri juga terdiri berbagai macam agama. Dan tinggal diberbagai suku dan juga negara. Sehingga perayaan Imlek dapat dilakukan sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing.

“Saya baru pertama kali tau ada Pondok Pesantren menggelar malam Imlek. Dimana-mana belum ada, ini mendatangkan warga sekitar juga diadakan malam dialog budaya. Imlek itu budaya, tapi budaya yang dilaksanakan oleh etnis Tionghoa. Gong Xi Fa Cai itu do’a agar berkahnya melimpah. Tapi kebanyakan warga mengira itu adalah ucapan selamat tahun baru. Padahal dalam islam yang mendo’akan kebaikan akan kembali kepada kita yang mendoakan,” tutur Haryono Ong.

Ketua STAI Al Hidayat Lukman Hakim menambahkan, manusia diciptakan bersuku dan berbangsa. Dengan tujuan agar manusia saling mengenal, saling memahami, dan saling menghormati.

“Tuhan menciptakan manusia bersuku dan berbangsa-bangsa, supaya saling mengenal, saling memahami, dan saling menghormati,” pesan Ketua STAI Al Hidayat.

Hj Fatimah Asri Mutmainah (Anggota Komnas Desabilitas) memberikan pesan, generasi muda merupakan generasi terdepan dalam menjaga bangsa ditengah bahaya ancaman intolerasi yang begitu marak.

Maka penerimaan pemahaman terhadap sebuah perbedaan harus dilihat secara utuh dari semua sisi. Bukan hanya perbedaan suku, agama, maupun ras, tetapi juga perbedaan terhadap penyandang disabilitas.

“Kenapa pentingnya kita merayakan ini dalam rangka menjaga bangsa ini dari sesuatu yang kita takutkan ketika hari ini ancaman intoleransi itu begitu arak membahayakan bangsa ini. Generasi muda garda terdepan dengan memahami penerimaan terhadap perbedaan. Ketika saya berbicara sebagai Komis Nasional Disabilitas, tidak hanya perbedaan suku agama termasuk penyandang disabilitas,” kata wanita yang akrab disapa Teh Aci. (Asmui)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

You May Also Like

Gus Wabup : Rembang Jadi Etalase NU

Wakil Bupati Rembang H M Hanies Cholil Barro’ (Gus Hanies) meminta kader…

Wabup Minta Sekretariat DPRD Optimalkan Publikasi Kerja Anggota Dewan

Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Rembang mempunyai tugas besar untuk mengatasi…

Drupoh, Tradisi Unik Saat Panen Duku Woro

Desa Woro Kecamatan Kragan terkenal dengan buah dukunya atau masyarakat biasa menyebutnya…

Gus Hanies: Bangunan Gedung Harus Ramah Difabel

Pemerintah Kabupaten Rembang berupaya membuat akses ramah difabel saat membangun gedung. Hal…