Sebuah rumah tempat tinggal sekaligus warung makan di tepi jalan Pantura dekat jembatas Desa Sluke, Kecamatan Sluke di eksekusi oleh petugas Pengadilan Negeri Rembang. Warung Makan sederhana tersebut semula ditempati pasangan suami isteri Sariman dan Warkini.

Proses eksekusi bangunan mendapatkan pengawalan ketat dari petugas Kepolisian dan aparat terkait pada Selasa pagi (08/02) kemarin. Pemilik bangunan hanya bias pasrah melihat bangunan tempat usahanya itu dirobohkan dengan menggunakan alat berat.

Warkini mengaku sudah membeli tanah yang menjadi obyek sengketa untuk mendirikan warung tahun 1996 lalu. Tanah tersebut dibeli dengan harga Rp 3,3 Juta dari tangan Diatmono (Bah Can). Lahan yang dipakai warung, bersebelahan dengan ruko milik Suharno, anak angkat Bah Can.

Dokumen sertifikat yang diterbitkan Badan Pertanahan Nasional (BPN), lahan warung ternyata menjadi satu aset dengan Ruko Suharno. Suharno sempat meminjam uang ke salah satu bank, dengan agunan sertifikat tersebut. Namun Suharno meninggal dunia sebelum hutang yang dipinjam lunas. Sehingga, pehak perbankan melelang asset yang menjadi agunan. Kebetulan pemenang lelang adalah Ahmad Zaenal Ubab, warga Desa Sluke, Kecamatan Sluke.

Meski sudah berulang kali dimediasi oleh pemerintah desa, dan pihak pengadilan, ternyata tidak tercapai kata mufakat. Kemudian pihak pengadilan menerbitkan surat perintah mengosongkan tanah dengan luas 632 meter persegi itu. Wakini memberikan penolakan dan memilih bertahan karena merasa sudah membeli tanah tersebut dengan bukti surat perjanjian jual beli dan kwitansi pembayaran.

“Beli tahun 1996, tapi kenapa kok muncul sertifikat atas nama orang lain di tahun 1998. Masyaallah pedih sekali, sudah dibongkar semua gitu, ya terima saja. Saya sudah menempati lokasi ini lama sekali, belasan tahun,“ tuturnya.

Panitera Pengadilan Negeri Rembang, Anjar Wirawan Dwi Sasongko menyatakan setahun terakhir pihaknya sudah memberikan 2 kali peringatan kepada termohon eksekusi untuk pindah dan mengosongkan bangunan secara sukarela.

Lantaran tidak diindahkan, pihaknya melakukan akhirnya melakukan eksekusi, atas dasar penetapan Ketua Pengadilan Negeri Rembang.

“Termohon eksekusi masih menginginkan rumahnya, padahal rumah ini sudah jatuh ke pemenang lelang, Pak Ahmad Zaenal Ubab. Sejak tanggal 27 Januari 2022 pak Ketua Pengadilan Negeri memerintahkan untuk eksekusi. Jadi ini ada proses lama, nggak serta merta, “ terang Anjar.

Kuasa hukum pemohon eksekusi, Sigit membenarkan mediasi sudah dilakukan berulang kali di tingkat desa maupun pengadilan. Lantaran tidak mencapai kata mufakat, akhirnya eksekusi ditempuh sebagai jalan terakhir.

“Sebenarnya ya nggak tega, tapi apa boleh buat, upaya kekeluargaan nggak berhasil, mediasi sudah berulang kali, “ tandasnya. (Asmui)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Pelaku Pencabulan Jalanan Babak Belur Dihajar Warga

Warga geram dengan ulah seorang pemuda asal Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora. Dia…

Daftar Kejadian Bencana Alam di Kabupaten Rembang 2021

Sepanjang 2021 terjadi beberapa bencana alam yang menyambangi sejumlah wilayah di Rembang.…

Tidak Ada Tanda Kekerasan Pada Tahanan Asal Jakarta Yang Meninggal di Rutan Rembang

Rumah Tahanan (Rutan) kelas II B Rembang menegaskan tidak ada tanda kekerasan…

Truk Rem Blong di Turunan Lampu Merah di Balikpapan Ternyata Pernah Terjadi di Rembang

Masih dijumpai truk bersumbu besar melintas angkutan barang melintas di jalan dalam…