KALIORI – Populasi ternak di Kabupaten Rembang, sangat luar biasa. Hal itu disampaikan oleh Ketua Karang Taruna Kabupaten Rembang, Ahmad Rif’an, saat kegiatan Temu Kangen Kanca Pangon, di Pasar Mbrumbung, Dusun Randugosong, Desa Banggi, Kecamatan Kaliori, Hari Minggu (4/12).

Rif’an mengatakan data populasi ternak berdasarkan data di Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2020, jumlah sapi potong sebanyak 137.001 ekor dan jumlah kuda sebanyak 3.123 ekor.

“Kalau melihat data-data di BPS, itu banyak sekali. Cuma saya agak heran populasi kuda di Rembang, terbanyak di Jawa Tengah. Mosok iya? (Padahal,red) Dokar mulai berkurang,” imbuhnya.

Ahmad Rif’an menyebutkan populasi kerbau memang sangat terkenal di Kabupaten Kudus karena di kabupaten tersebut banyak kuliner yang berasal dari daging kerbau. Namun populasi hewan kerbau di Rembang, juga ada, yaitu di Desa Pasucen, Kecamatan Gunem.

Dulunya juga pernah ada di Desa Tahunan, Kecamatan Sale, pada tahun 2013 tercatat di BPS, ada 28 ekor.

Populasi kerbau di Desa Pasucen, saat ini masih ada ratusan ekor. Hargajualnyapun masih tinggi di banding harga sapi. Karena di kisaran Rp. 18 juta sampai Rp. 20 juta. Pasalnya, kerbau di Pasucen, masih menjadi syarat utama untuk lamaran.

Ahmad Rif’an menerangkan dirinya ingin mengadakan Grebekan Kumpul Kebo di Desa Pasucen. Namun hal itu gagal dilaksanakan pada tahun 2022 ini. Harapannya bisa direalisasikan pada tahun 2023 nanti.

Di kegiatan Grebekan Kumpul Kebo itu menurut Rif’an bisa diisi kegiatan parade kerbau berjalan dan ajang kreatifitas melukis kerbau. Bahkan pengunjung bisa naik kerbau sambil meniup seruling.

Menanggapi hal itu Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto membenarkan Desa Pasucen sebagai satu-satunya desa yang mempertahankan tradisi lamaran dengan kerbau.

“Pasucen punya keunikan dibanding beberapa desa lain. Karena di sana masih mempertahankan kerbau. Karena untuk lamaran atau untuk perkawinan. Mahalpun dibeli. Karena untuk kelengkapan lamaran,” ujarnya.

Agus Iwan menuturkan hewan kerbau di sana, kadang juga dilepas oleh pemiliknya. Bahkan kerbau betina, ketika pulang dalam keadaan bunting. Makanya bisa dikatakan kumpul kebo.(Masudi/CBFM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Gus Wabup : Rembang Jadi Etalase NU

Wakil Bupati Rembang H M Hanies Cholil Barro’ (Gus Hanies) meminta kader…

Wabup Minta Sekretariat DPRD Optimalkan Publikasi Kerja Anggota Dewan

Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Rembang mempunyai tugas besar untuk mengatasi…

Drupoh, Tradisi Unik Saat Panen Duku Woro

Desa Woro Kecamatan Kragan terkenal dengan buah dukunya atau masyarakat biasa menyebutnya…

Gus Hanies: Bangunan Gedung Harus Ramah Difabel

Pemerintah Kabupaten Rembang berupaya membuat akses ramah difabel saat membangun gedung. Hal…