Kebutuhan Guru Agama Konghucu Bakal Diakomodir

REMBANG – Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia (RI) menilai moderasi beragama di Kabupaten Rembang sangat baik. Sebab kerukunan antar umat beragama sangat terjaga tanpa pernah adanya konflik yang terjadi.

Hal itu disampaikan oleh Juru Bicara Kemenag RI, Anna Hasbi saat forum diskusi bersama warga Tionghoa pemeluk agama konghucu yang digelar selama 2 hari mulai Selasa (28/11) sampai Rabu (29/11) di Klenteng Hok Tik Bio, Desa Sugihan, Kecamatan Rembang.

Anna menilai Rembang merupakan satu kota yang unik. Dimana adanya keberagaman agama bisa tumbuh dan hidup tanpa kegaduhan atau konflik meski memiliki banyak perbedaan.

Pertemuan dengan warga Konghucu pada kesempatan tersebut menurutnya yang paling ia tunggu-tunggu. Sebab dari sana dirinya bisa mendengar secara langsung aspirasi dari warga konghucu di Rembang.

“Itu kan jadi hal yang penting untuk masukan juga buat Kementerian Agama agar kami bisa mengembangkan program kami dan kami tahu sebetulnya apa yang dibutuhkan oleh masyarakat di sini,” ucapnya.

Anna mengakui jika tenaga pendidik khususnya pendidikan Agama Khonghucu masih sangat minim. Bahkan tenaga pendidik di beberapa agama lain juga mengalami hal serupa.

“Masalahnya memang ketersediaan SDM (tenaga pendidik agama) itu juga sulit. Kalau dalam kasus Konghucu ini sudah kita bahas, bahwa memang karena Konghucu merupakan agama yang baru diakui tentu saja susah mencari SDM yang memenuhi kualifikasi,” terangnya.

Upaya Kemenag untuk mengatasi minimnya tenaga pendidik agama khususnya konghucu, lanjut dia, adalah dengan mendirikan Sekolah Tinggi Konghucu dan membuat program diploma agama konghucu. Sehingga kebutuhan guru konghucu bisa segera dipenuhi.

Sementara itu, Pembimbing Umat Konghucu di Lasem, Hariyanti mengungkapkan di wilayah Kecamatan Lasem dan Rembang sama sekali belum ada pendidikan Agama Khonghucu yang masuk di sekolah baik dari TK sampai ke SMA hingga saat ini.

Sehingga Umat Konghucu di Rembang selama ini mengikuti pendidikan agama lain. Seperti agama kristen dan katolik. Padahal dulu sebelum orde baru, kata dia, ada salah satu sekolah dasar yang mengajarkan pendidikan konghucu.

“Dulu sebelum orde baru itu di SD Wijaya Kusuma itu satu-satunya yang sudah ada pendidikan Agama Khonghucu. Namun itu cuma berjalan beberapa tahun, kemudian dapat tekanan dan hilang sudah,” ungkapnya.

Ia pun juga mengakui jika ketersediaan tenaga pengajar pendidikan Agama Konghucu sangat minim. Menurutnya hal itu yang menjadi kendala pendidikan Agama Khonghucu jarang ditemui di sekolahan.(Rendy/Msd/CBFM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *