Kasus DBD di Kabupaten Rembang meningkat

REMBANG – Pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) / Dengue Haemoragic Fever (DHF) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. R. Soetrasno mengalami peningkatan. Pasalnya, pada bulan Desember 2023 sebanyak 3 kasus, Senin (15/1) terdapat 17 kasus, namun pada Sabtu (20/1) menjadi 20 kasus.

Humas RSUD Dr. R. Soetrasno, Tabah Tohamik mengatakan meningkatnya kasus DHF karena adanya cuaca di setiap bulan Januari yang terjadi peralihan dari musim kemarau ke musim hujan.

“Memang ada peningkatan di Bulan Januari ini, sampai hari ini, yang dirawat 20 pasien dengan DHF. 2 di antaranya dirawat di ruang ICU anak,” imbuhnya. 

Ia menjelaskan akibat kapasitas ruangan pasien anak sebanyak 24 anak. Sehingga pasien DHF dipindah ke ruangan lain yang mengalami kekosongan.

Hal senada juga disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Rembang, Maria Rehulina menyebutkan kasus DBD yang terjadi di Puskesmas dan Rumah Sakit pada Januari ini terbilang naik jika dibandingkan bulan Desember 2023. Pada bulan Desember kemarin hanya ada 19 kasus DBD.

“Bulan januari ini naik hampir tiga kali lipat, ada 50an kasus. Apalagi januari ini belum selesai,” tandasnya.

Peningkatan kasus DBD ini menurut Rehulina disebabkan beberapa faktor. dr. Maria menyebut salah satunya ada sebagian masyarakat yang belum sadar akan pentingnya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Pasalnya, angka bebas jentiknya masih kurang dari 95 persen.
Selain itu, penyakit DBD ini juga dipicu peralihan musim kemarau ke penghujan. Frekuensi hujan yang tinggi ini menyebabkan suhu menjadi lembab dan memicu cepatnya perkembangbiakan nyamuk.

Rehulina mengungkapkan untuk mengatasi peningkatan DBD, Dinkes akan mengaktifkan kembali Kelompok Kerja Operasional (Pokjanal) DBD dari tingkat kabupaten sampai ke desa. Kemudian mengaktifkan kembali Gerakan satu rumah satu Juru Pemantau Jentik (Jumantik).

Menanggapi hal itu, Bupati Rembang, Abdul Hafidz telah meminta Dinas Kesehatan (Dinkes) melakukan langkah- langkah agar kasus DBD tidak semakin naik. Upaya-upaya PSN perlu dilakukan secara masif.

“DBD ini supaya ada pencegahan, ada monitoring di wilayah- wilayah. Jangan sampai ada kejadian baru kita tangani, pencegahan jauh lebih penting, ” bebernya.

Bupati meminta kepedulian dan kewaspadaan dari orang tua karenq penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegypti ini rata- rata menyerang anak- anak. 

Sementara itu, Penjabat Gubernur Jawa Tengah, Nana Sudjana mengharapkan agar tidak menjadi korban DBD supaya masyarakat dalam kesehariannya ketika tidur di dalam kelambu atau memasang obat nyamuk bakar / obat nyamuk oles.

“Saya harapkan masyarakat Jawa Tengah khususnya di Rembang ya harus berhati-hati,” ujarnya.

Disamping itu Nana Sudjana berpesan kepada masyarakat agar di lingkungannya tidak terdapat air yang menggenang. Pasalnya, air yang tergenang menjadi tempat bertelur dan menetasnya nyamuk.(Masudi/CBFM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *