Memasuki bulan suro memang identik dengan tradisi menjamas atau membersihkan benda pusaka. Seperti yang dilakukan forum komunitas masyarakat sejarah (Fokmas) Lasem di Desa Gedongmulyo Kecamatan Lasem pada malam 1 Suro, kemarin.

Dalam ritual penjamasan itu, sedikitnya ada 300 lebih keris yang berumur puluhan tahun dibersihkan dengan serangkaian ritual serta doa. Ada pula benda pusaka atau pataka peninggalan orang pertama yang singgah di Lasem yang dibersihkan dalam ritual itu.

Ketua Fokmas Lasem, Ernantoro menyampaikan menjamas keris atau benda pusaka lainnya rutin dilakukan ketika memasuki bulan suro. Bukan bermaksud syirik, prosesi tersebut merupakan sebuah budaya atau adat yang dilakukan orang jawa.

 

“Fokmas memang sudah beberapa tahun ini sudah menjamas keris atau benda pusaka. Jadi kalau untuk tahun-tahun yang dulu kita istilahnya cuma upacara-upacara tidak seperti acara tahun ini. Jadi semakin lama kita nguri-nguri budaya dan semakin melekatkan budaya Jawa ini untuk temen-temen fokmas,” kata dia.

Penjamasan atau tradisi membersihkan benda pusaka, lanjut dia, diawali dengan mencuci pusaka peninggalan leluhur menggunakan air sendang yang diberi bunga tujuh rupa. Setelah dibersihkan kemudian keris dan benda pusaka lainnya diberi olesan minyak sebelum dimasukkan ke warangka.

 

“Air dari sendang Mbah Ponyo yang ada di Kajar, itu air khusus. Kemudian kembang setaman berjumlah 7 kita campur di air, ada kemenyan juga, ada minyak zaitun dan minyak misik atau minyak ja’faron dan minyak malaikat subuh. Itu kita campur dan kita poleskan di keris itu,” bebernya.

Uniknya dalam penjamasan tersebut pusaka asli Lasem yang jarang sekali diketahui banyak orang juga ikut dibersihkan.

Menurutnya pusaka yang ia temukan pada tahun 1989 di puncak Gunung Argo itu dibuat oleh orang yang pertama kali menginjakkan kakinya di Lasem pada masa sebelum masehi.

 

“Jadi saya menjamas pusaka yang miliknya Lasem. Jadi pusaka itu adalah benda yang tahunnya sebelum masehi. Jadi istilahnya benda pusaka atau pataka. Jadi pataka itu benda yang dipakai oleh orang-orang yang pertama kali masuk ke Lasem dan membawa pusaka itu,” terangnya.

Dikatakannya pusaka tersebut memliki simbol dan arti masing-masing di setiap bagiannya. Pada ujungnya atau mata tombaknya berbentuk gunungan wayang, kemudian turun di bagian bawahnya berbentuk tanduk sapi betina atau jawi dan kebawah lagi berbentuk ikan lumba-lumba.

 

“Ikan lumba-lumba pada saat itu untuk pertanda bahwa antara laut dan darat itu menyatu. Di tengah-tengah ada pegunungan. Jadi kalau setiap tahun benda-benda pusaka seperti keris kita kumpulkan semua hampir sekitar 325 keris yang kami jamas,” pungkasnya.(Dari Lasem, Rendy Teguh Wibowo melaporkan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

You May Also Like

Gus Wabup : Rembang Jadi Etalase NU

Wakil Bupati Rembang H M Hanies Cholil Barro’ (Gus Hanies) meminta kader…

Wabup Minta Sekretariat DPRD Optimalkan Publikasi Kerja Anggota Dewan

Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Rembang mempunyai tugas besar untuk mengatasi…

Drupoh, Tradisi Unik Saat Panen Duku Woro

Desa Woro Kecamatan Kragan terkenal dengan buah dukunya atau masyarakat biasa menyebutnya…

Gus Hanies: Bangunan Gedung Harus Ramah Difabel

Pemerintah Kabupaten Rembang berupaya membuat akses ramah difabel saat membangun gedung. Hal…