Desa Tunggulsari Jadi Lokus Implementasi Model Bisnis Hilirisasi Pangan

KALIORI – Kelompok wanita pengolah dan pemasar produk olahan ikan di Desa Tunggulsari, Kecamatan Kaliori, terpilih menjadi lokus implementasi model bisnis hilirisasi pangan oleh Bank Indonesia (BI). Dimana para ibu-ibu di desa setempat didorong untuk mengembangkan hasil olahan perikanan agar bernilai jual lebih tinggi.

Asisten Direktur Kantor perwakilan BI Jawa Tengah, Meysara Cahyadi menyampaikan komoditas perikanan menjadi salah satu perhatian pemerintah dan BI dalam melakukan hilirisasi pangan. Desa Tunggulsari dipilih menjadi lokus model bisnis hilirisasi pangan karena ketersediaan bahan baku yang melimpah dan kualitas hasil perikanan yang bagus.

Melalui program berkelanjutan yang bakal berjalan beberapa tahun ini, BI memberi support dan mendampingi kelompok wanita Desa Tunggulsari untuk meningkat dari sisi kelembagaan maupun pengembangan usahanya. Dalam hal ini, kata dia, kreatifitas dari para ibu-ibu menjadi kunci dalam meningkatkan hasil produksinya.

“Program yang akan dilaksanakan oleh Bank Indonesia akan mendukung ibu-ibu sekalian. Nanti apakah sifatnya pelatihan, bisa juga nanti mendatangkan narasumber, mungkin nanti pelatihan praktisnya bagaimana. Pada prinsipnya adalah membantu ibu-ibu meningkatkan kemampuannya, kapasitasnya, dan mendukung usaha yang telah dijalankan,” Ucap Meysara saat kick off implementasi model bisnis hilirisasi pangan di balai Desa Tunggulsari, Kamis (28/3).

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dinlutkan) Kabupaten Rembang, Sofyan Cholid mengatakan, pihaknya tidak ingin para ibu-ibu di Desa Tunggulsari menjadi pelaku usaha yang asal-asalan. Dimana masalah utamanya yaitu hanya mendapat keuntungan tipis dari produk olahan perikanan yang dijual.

Hal itu tentu sangat disayangkan jika melihat potensi hasil perikanan yang melimpah dan kualitas ikan yang bagus. Melalui model bisnis hilirisasi dari BI ini dirinya berharap ke depan hasil olahan perikanan di Desa Tunggulsari semakin berkembang dan keuntungan dari produk yang dijual semakin besar.

“Untuk pengolahan setidaknya ada nilai tambah, jadi ikan biasanya dijual apa adanya kita proses dahulu. Seperti pengasapan, bakso ikan atau yang lain. Ini menjadi salah satu usaha bagaimana komoditas kita ini bisa kita kembangkan,” jelasnya.

Endang Winarsih, Kepala Desa Tunggulsari mengungkapkan belakangan ini yang menjadi kendala kelompok wanita di desanya dalam memproduksi olahan ikan adalah ketersediaan Gas LPG 3 Kg. Padahal pada momen ramadan seperti ini jumlah permintaan pasar sedang meningkat.

“Di puasa ini permintaan sangat banyak sekali, ada yang jam 01.00 WIB sudah buat kerupuk dan keripik. Permintaan memang banyak tapi kendalanya Gas yang langka. Jadi kalau mau produksi mikir-mikir dapat gas dari mana,” ungkapnya.

Disamping kendala yang sedang dihadapi saat ini, Endang meminta para ibu-ibu kelompok wanita pengolah dan pemasar produk olahan ikan di Desanya mengikuti sosialisasi program hilirisasi dari BI dengan baik. Ia berharap ada ilmu baru yang didapat untuk mengembangkan kualitas usaha dan pendapatan warganya.(Rendy/Msd/CBFM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *