Chazim Mabrur dan Muhtar Nur Halim pimpin PCNU Rembang

REMBANG – Kiai Haji (KH) Ahmad Chazim Mabrur dan KH. Mukhtar Nur Halim (sebelumnya Sekretaris PCNU Rembang), pimpin Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Rembang. Keduanya terpilih dalam kegiatan Konferensi Cabang (Konfercab) IV yang diselenggarakan di Gedung Haji Kabupaten Rembang, Ahad (21/4).

Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Lukman Umafagur mengatakan dalam konfercab itu diisi pemilihan ketua tanfidziyah oleh 2 kandidat yaitu KH. Mukhtar Nur Halim mendapatkan 6 suara dan Agus Setyohadi Purwanto mendapat 3 suara.

“KH. Mukhtar Nur Halim sebagai ketua tanfidziyah masa khidmah 2024-2029” imbuhnya.

Sementara dalam pemilihan Rais Syuriyah menurut Lukman dipilih oleh Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) memilih KH. Ahmad Chazim Mabrur sebagai Rais Syuriyah untuk ke-3 kalinya.

Wakil Bupati Rembang, Mochamad Hanies Cholil Barro’ menyampaikan Bangsa Indonesia ke depan sangat tergantung pada 3 hal penentu masa depan Indonesia meliputi generasi muda yang semakin melimpah, pertumbuhan masyarakat urban (perkotaan) semakin tinggi dan digitalisasi.

“Saya kira untuk kepengurusan ke depan atau yang dibentuk pada konfercab ini, pada program kerjanya jangan pernah meninggalkan ke-3 hal ini” harapnya.

Pria yang biasa disapa Gus Hanies itu menjelaskan mayoritas masyarakat Indonesia, saat ini adalah generasi Z di usia 12 sampai 23 tahun. Ini akan menjadi lahan garap PCNU Rembang. Supaya generasi milenial itu bisa digarap oleh Badan Otonom baik IPNU / IPPNU maupun Gerakan Pemuda Ansor / Fatayat NU.

Selain itu menurut Gus Hanies saat ini terjadi perubahan masyarakat kota yang cukup dinamis. Artinya, banyak masyarakat yang tinggal di perkotaan dari pada di desa. Sehingga menjadi pekerjaan rumah bagi NU dalam pola dakwah dan pola pendekatan supaya digarap lebih modern dengan tidak meninggalkan tradisi-tradisi lama.

Adik Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf itu mengungkapkan digitalisasi sudah mulai masuk di ruang pribadi kita. Teknologi digitalisasi sudah semakin pesat. Tidak boleh warga nahdliyin tidak update. Sehingga ketinggalan zaman. Bahkan Gagap Teknologi (Gaptek).

Pasalnya, pengelolaan organisasi ke depan lebih banyak melibatkan teknologi digital mulai dari verifikasi dan validasi kepengurusan, akreditasi organisasi dilaksanakan serba on line.(Masudi/CBFM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *