Tidak banyak orang tahu bahwa replika Kereta Raden Ayu Kartini yang dipajang di Museum Kartini ternyata dibuat oleh seniman kayu dari Desa Meteseh, Kecamatan Kaliori. Dibalik sejarahnya, kereta tersebut juga menyimpan cerita mistis saat pertama kali digunakan untuk karnaval.

Pembuat replika kereta R.A Kartini, Sholehayam yang merupakan warga Desa Meteseh Kecamatan Kaliori menyampaikan, kereta tersebut dibuatnya pada tahun 2006. Proses pembuatan replika kereta R.A Kartini memakan waktu 4 bulan lamanya hingga siap untuk dinaiki.

Sholeh mengaku selama proses pembuatan kereta, semuanya ia kerjakan seorang diri tanpa ada bantuan dari pekerja lain. Dirinya mengklaim bahwa kereta yang ia buat kemiripannya hampir 99 persen dengan kereta R.A Kartini yang asli.

Kereta RA Kartini yang ia buat terdiri dari kerangka besi dengan dilapisi kayu jati pada bagian luar. Menariknya, untuk memberikan ruh pada kereta buatannya, dirinya juga menggunakan kayu geladak asli bekas kuda yang digunakan pada kereta R.A Kartini jaman dulu.

Setelah seluruh bagian kereta jadi, untuk pertama kali kereta buatannya digunakan pada acara karnaval pada tahun 2007. Kereta tersebut ditumpangi oleh Bupati Rembang yang menjabat pada masa itu.

Saat kereta dipersiapkan untuk acara karnaval, terdapat sejumlah kejanggalan yang berbau mistis. Dimana dua ekor kuda yang hendak dipasangkan ke kereta menolak mendekati kereta meski sudah dipaksa dan ditarik.

Karena memiliki rasa tanggung jawab yang besar dari hasil karyanya, Soleh berusaha keras agar kedua kuda tersebut mau untuk dipasangkan ke kereta. Setelah kuda bisa terpasang, Soleh melatih kuda-kuda tersebut agar bisa berjalan menyatu dengan kereta tanpa kendala.

“Dua kuda ini tidak berani mendekat sama kereta. Karena saya yang membuat, saya mencoba bagaimana supaya kuda itu mau mendekat dan saya pasangkan dengan kereta dan setelah itu saya latih untuk jalan bersama kereta itu 5-6 hari, terus akhirnya bisa digunakan,” terangnya.

Selain itu juga ditemukan pusaka dibawah kursi kusir yang tidak diketahui asalnya. Dirinya pun sempat menanyakan kepada beberapa orang terkait mengenai siapa yang meletakkan benda pusaka tersebut, namun semuanya juga tidak mengetahui asal usul benda misterius tersebut.

“Karena saya yang membuat, pada malam sebelum karnaval saya diminta untuk mendoakan kereta tersebut. Setelah saya doakan, di jok (kursi) kusir itu saya buka ternyata didalamnya ada pusakanya, saya kaget. Saya waktu itu juga tanya kepada pihak rumah tangga Setda Rembang apakah ada yang menaruh pusaka dalam kereta itu, ternyata tidak ada. Ini yang menjadi tanda tanya bagi saya selaku pembuat kereta,” bebernya.

Pusaka yang ada dibawah tempat duduk kusir itu tidak dipindahkan oleh Soleh. Dirinya juga tidak bercerita kepada siapa pun jika ia menemukan pusaka di bawah tempat duduk kusir.

Kendati demikian acara karnaval pada tahun 2007 lalu itu berjalan dengan lancar tanpa ada kendala pada kereta buatannya. Dirinya juga terus memantau kondisi keretanya pada saat digunakan karnaval.

Dengan kondisinya yang sudah menginjak usia 15 tahun, kereta tersebut tidak lagi memungkinkan untuk dinaiki kembali. Saat ini kereta tersebut terpajang di sebelah timur museum RA Kartini dan bisa disaksikan oleh wisatawan hingga saat ini.(Dari Kaliori Rendy melaporkan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

You May Also Like

Gus Wabup : Rembang Jadi Etalase NU

Wakil Bupati Rembang H M Hanies Cholil Barro’ (Gus Hanies) meminta kader…

Wabup Minta Sekretariat DPRD Optimalkan Publikasi Kerja Anggota Dewan

Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Rembang mempunyai tugas besar untuk mengatasi…

Drupoh, Tradisi Unik Saat Panen Duku Woro

Desa Woro Kecamatan Kragan terkenal dengan buah dukunya atau masyarakat biasa menyebutnya…

Gus Hanies: Bangunan Gedung Harus Ramah Difabel

Pemerintah Kabupaten Rembang berupaya membuat akses ramah difabel saat membangun gedung. Hal…