3 Guru di Rembang Belajar Ilmu IT Dengan Dosen Harvard University

REMBANG – Tiga guru asal Kabupaten Rembang terpilih mengikuti program Microcredential CS50x Indonesia-Harvard University. Program tersebut merupakan kesempatan berharga bagi para guru untuk memperdalam pemahaman mereka dalam ilmu komputer dan informatika, bahkan bagi yang tidak memiliki latar belakang dalam bidang tersebut.

Ketiganya Hamidah Ari Ruchana dari SMPN 2 Sedan, Eko Adi Saputro dari SMPN 3 Kragan dan Anisa Rahmanti dari SMKN 1 Rembang belajar langsung dari dosen terkemuka, Prof. David J Malan, Gordon McKay Professor, Practice of Computer Science Harvard University.

Sebelumnya ketiganya bersama 269 guru Indonesia peserta Program Microcredential CS50x Indonesia-Harvard University diterima langsung oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadiem Makarim di Kantor Kemendikbud Ristek Jakarta.

Program Microcredential CS50x Indonesia-Harvard University merupakan bagian dari kerja sama antara Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) Kemendikbudristek RI dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Para guru peserta mengikuti program selama 22 minggu secara daring, belajar tentang algoritma, struktur data, encapsulation, managemen sumber daya, keamanan, software engineering, hingga web development.

Guru SMKN 1 Rembang, Anisa Rahmanti, mengaku sangat gembira atas kesempatan yang ia dapat sebagai peserta terpilih. Ia bisa belajar langsung dari para dosen di Harvard University dan mengembangkan pembelajaran berbasis proyek yang menyenangkan.

“Yang menarik adalah kita belajar bagaimana para dosen atau para pemateri harvard itu menguraikan kemudian menyampaikan masalah, kemudian memberikan nilai dan feedback itu bisa sangat kita tiru untuk memberikan pembelajaran ke siswa kita,” ungkapnya.

Selain itu dirinya juga belajar tentang etika di dalam memberikan pembelajaran. Dimana budaya plagiasi tanpa mencantumkan narasumber saat menyampaikan materi pembelajaran harus benar-benar dihindari, sehingga bisa menjadi contoh bagi para siswa.

“Pembajakan itu sudah sangat lumrah di kalangan siswa kita dan dengan hal ini kita juga bisa mengajarkan siswa kita untuk menghormati aturan-aturan di dalam akademik,” imbuhnya.

Setelah menyelesaikan pembelajaran daring, para guru terpilih melanjutkan pembelajaran digital skill lebih lanjut secara tatap muka di Jakarta Intercultural School (JIS) bersama Prof. Malan dari Harvard University.

Diharapkan, program ini akan membantu para guru dalam menyelaraskan pembelajaran dengan kebutuhan zaman dan mendukung siswa menjadi generasi kreator dalam era digital.(Rendy/Msd/CBFM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *